Image Description
Admin Rabu, 29 Juni 2022 pukul 14.30 WIB
42 views | Share:

Desain Pedhut Di Hyang Juarai Lomba Rancangan Busana Bahan Dasar Lurik Tenun ATBM/ATM se-Jateng

Desainer kondang Alvin Ariwibowo yang didukung Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo dan berbagai pihak terkait dengan karyanya “Pedhut Di Hyang” berhasil menjadi Juara Satu Lomba Rancangan Busana Bahan Dasar Lurik/Tenun ATBM/ATM Tahun 2022 mengalahkan 34 Kabupaten/Kota se Jawa Tengah di Jakarta, Rabu Kemarin, (28/06/2022).

Kepala Disparbud Kabupaten Wonosobo Agus Wibowo mengatakan, kemenangan tersebut tak disangka, mengingat kain tenun di Wonosobo termasuk masih baru dibanding dengan Kabupaten/Kota lain di Jawa Tengah yang lebih dahulu yang mengenal tenun.

"Walau pemanfaatan secara serius kain tenun di Wonosobo masih baru,  rancangan “Pedhut Di Hyang ini’ saya katakan bagus, bahan yang digunakan juga istimewa,"pujinya.

Jelas Agus, Kabupaten/kota lain memanfaatkan bahan tenun yang  terbuat dari serat tumbuhan atau kapas,  sementara, Wonosobo menggunakan wol bulu domba  dari jenis domba texel yang saat ini hanya ditemui di Wonosobo.

"Tidak semua domba bisa menghasilkan wol yang bisa ditenun seperti wol Dombos," bebernya.

Menurut desainer dan perancang busana kebanggaan tanah air sekaligus juri lomba Popy Darsono, Ayu Purhadi, dan Lisa Fitria mengapresiasi atas inovasi dan keunikan dari Kain Tenun rancangan asal Wonosobo ini, yang terbuat dari wol domba.

Lisa mengatakan, rancangan busana berbahan wol dombos ini berpotensi untuk diikutkan ke ajang bergengsi fashion di Paris tahun mendatang karena sangat menarik dan unik.

Senada dengan Lisa, Popy Darsono juga menyebut rancangan tenun wol dombos juga mampu menjadi icon Wonosobo untuk diikutsertakan ke ajang Lomba Tingkat Nasional Tahun 2023.

Dombos merupakan domba texel keturunan Belanda yang dikembangkan di Wonosobo. Tahun 1955 dikirim bibitnya dari Belanda ke beberapa daerah di Indonesia. Populasi dombos semakin menurun padahal produksi dagingnya lebih banyak dibanding domba lokal. Sehingga perputaran ekonomi dombos kalah dengan domba lokal.

Merespon hal tersebut, Pemkab Wonosobo berupaya menggenjot populasi dombos melalui upaya inovasi pengolahan limbah bulunya yaitu setiap 6 bulan dicukur dan bulunya dimanfaatkan menjadi benang wol untuk ditenun menjadi kain tenun bulu domba, dan bulu pendeknya mampu disulap menjadi isian bantal atau kasur. Juga melakukan kerjasama dan MoU dengan Solidaridad Network dari Belanda.

Sementara itu, Sang Perancang Alvin Aribowo menuturkan, desain Pedhut Di Hyang memiliki makna Di Hyang (Dieng) atau tempat para dewa, disebut sebagai negeri di atas awan yang memiliki pesona dan daya tarik tersendiri. Cikal bakal peradaban Hindu Budha meninggalkan begitu banyak sejarah yang begitu indah untuk diceritakan turun-temurun.

Ia menambahkan, desain ready to wear ini benar-benar sesuai dengan prinsip sustainable fashion yang memanfaatkan limbah bulu domba sebagai kain tenun wol lokal pertama di Indonesia. Hal ini sejalan dengan G20 yang juga bertema green economy.

“Konsep desain busana tersebut merupakan jacket hoodie unisex dengan cutting zero waste, identik dengan suasana dingin di dataran tinggi Dieng, bahkan setiap bulan Juli hingga Agustus suhu dapat mencapai -9 derajat," terangnya.

Sedangkan celana zero waste dengan teknik wrap pants mempertegas siluet bold dan edgy. Memakai kombinasi kain tenun wol dombos warna misty gray dan tenun polos warna senada, seperti warna Pedhut di Hyang atau Kabut Dieng yang mistis.

Lomba yang dilaksanakan di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta ini, telah melalui tahapan seleksi ketat yaitu 31 peserta lolos seleksi awal, disaring menjadi 18 peserta, dan diperoleh 6 pemenang terbaik dari juara 1 hingga harapan 3.