Edit Foto Selfie dengan AI, Bagaimana Keamanan Datanya?
Mengubah foto selfie menjadi gambar bergaya estetik dengan bantuan kecerdasan artifisial (AI) kini semakin mudah. Cukup mengunggah foto, memilih gaya yang diinginkan, lalu dalam hitungan detik hasilnya bisa langsung digunakan. Praktis dan menarik, tetapi ada satu hal yang sering luput diperhatikan: foto yang kita unggah juga membawa data pribadi.
Ketika sebuah foto dimasukkan ke platform AI, yang terkirim bukan sekadar gambar untuk diolah. Foto wajah dapat mengandung informasi mengenai karakteristik wajah, sementara informasi teknis lain seperti perangkat, waktu, atau lokasi dapat ikut terekam tergantung aplikasi dan pengaturan yang digunakan.
Karena itu, Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Wonosobo mengajak masyarakat untuk lebih cermat sebelum mengunggah foto pribadi ke layanan AI. Setiap platform memiliki kebijakan privasi dan ketentuan penggunaan yang berbeda, termasuk mengenai bagaimana foto atau data yang diunggah diproses, disimpan, dan digunakan.
Hal yang perlu diperhatikan adalah kemungkinan foto disimpan dalam server untuk jangka waktu tertentu sesuai kebijakan platform. Pada layanan tertentu, data atau konten yang diunggah juga dapat digunakan untuk pengembangan atau peningkatan layanan. Artinya, sebelum menekan tombol unggah, pengguna perlu mengetahui terlebih dahulu apa yang terjadi terhadap data setelah foto masuk ke sistem.
Bukan berarti masyarakat harus berhenti menggunakan AI. Justru, teknologi dapat dimanfaatkan dengan lebih aman jika digunakan secara bijak. Sebelum mengunggah foto, luangkan waktu untuk membaca kebijakan privasi, memahami izin yang diminta, dan memastikan aplikasi berasal dari platform yang terpercaya.
Pengguna juga perlu mempertimbangkan jenis foto yang diunggah. Foto yang memperlihatkan wajah secara jelas, anak-anak, dokumen pribadi, kartu identitas, alamat, lokasi tertentu, atau informasi sensitif lainnya sebaiknya tidak sembarangan dimasukkan ke layanan AI.
Di era ketika foto dapat diubah menjadi berbagai bentuk hanya dalam beberapa detik, menjaga privasi menjadi bagian dari literasi digital. Hasil gambar boleh semakin kreatif, tetapi pengguna tetap perlu memahami bahwa di balik sebuah foto terdapat informasi yang tidak selalu terlihat oleh mata.