Panik Jadi Senjata Penipu, Diskominfo Wonosobo Ingatkan Bahaya Social Engineering
Sekretariat Minggu, 11 Oktober 2026
9 views | Share:

Panik Jadi Senjata Penipu, Diskominfo Wonosobo Ingatkan Bahaya Social Engineering

Penipu tidak selalu membutuhkan teknologi yang rumit untuk memperdaya korban. Terkadang, mereka hanya perlu membuat seseorang panik, takut, atau terburu-buru mengambil keputusan. Kondisi inilah yang dimanfaatkan dalam berbagai modus social engineering.

Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Wonosobo mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terbawa situasi ketika menerima pesan, telepon, atau informasi yang mencurigakan. Dalam social engineering, pelaku berusaha memanipulasi emosi dan kepercayaan korban agar mengikuti instruksi tanpa sempat memeriksa kebenarannya.

Modusnya bisa beragam. Pelaku dapat mengaku sebagai petugas layanan, menyampaikan adanya transaksi mencurigakan, menawarkan hadiah, menginformasikan paket bermasalah, hingga menyampaikan kondisi darurat yang membuat korban merasa harus segera bertindak. Tekanan untuk mengambil keputusan dengan cepat justru menjadi tanda yang perlu diwaspadai.

Saat berada dalam kondisi panik, seseorang cenderung fokus menyelesaikan masalah secepat mungkin. Akibatnya, tautan bisa langsung diklik, kode atau informasi pribadi diberikan, QR dipindai, bahkan transfer dilakukan tanpa memastikan siapa pihak yang sebenarnya menerima atau meminta informasi tersebut.

Karena itu, Diskominfo mengajak masyarakat menerapkan jeda 10 detik ketika menghadapi situasi mencurigakan. Jangan langsung mengikuti instruksi. Berhenti sejenak, baca kembali informasinya, periksa identitas pengirim, dan lakukan verifikasi melalui kanal resmi sebelum mengambil tindakan.

Masyarakat juga perlu menjaga informasi yang bersifat rahasia, seperti PIN, OTP, kata sandi, dan kode keamanan. Pihak yang benar-benar berwenang tidak semestinya meminta pengguna menyerahkan kode keamanan tersebut melalui pesan atau telepon. Jika ada permintaan yang terasa janggal, lebih baik menghentikan komunikasi dan melakukan pengecekan secara mandiri melalui kanal resmi.

Yang perlu diingat, jago menggunakan teknologi bukan berarti otomatis kebal terhadap penipuan. Social engineering justru memanfaatkan sisi manusia: rasa takut, rasa ingin tahu, kepercayaan, bahkan keinginan untuk segera menyelesaikan masalah.

Bagi Diskominfo Wonosobo, kewaspadaan digital bukan hanya tentang memahami cara menggunakan teknologi, tetapi juga mampu mengenali kapan seseorang sedang berusaha memengaruhi keputusan kita. Dengan membiasakan diri untuk berhenti, berpikir, dan memverifikasi, masyarakat dapat mengurangi risiko menjadi korban penipuan digital.